Tampilkan postingan dengan label Artikel Islam. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Artikel Islam. Tampilkan semua postingan

Kamis, 02 Januari 2014

Dampak Buruk Memakan Harta Haram

Allah ta'ala berfirman -yang artinya-:

Wahai segenap rasul, makanlah dari makanan yang baik-baik, dan kerjakanlah amal yang saleh. Sesungguhnya Aku Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan 

(Al Mukminun : 510

Dalam ayat diatas, secara khusus Allah memerintahkan para rasul-Nya agar hanya memakan makanan yang didapatkan secara halal, lalu Allah memerintahkan mereka untuk beramal saleh

Hal ini menunjukkan bahwa sangat erat hubungan antara mengkonsumsi makanan yang halal dengan amal saleh. Maka jangan diharap jasad kita akan bergairah untuk melakukan amal-amal saleh bila jasad tersebut tumbuh dan berkembang dari makanan yang haram

Dan jasad yang malas beramal shaleh tidak akan merasakan kenikmatan ibadah dan taqarrub kepada Allah yang pada gilirannya mengantarkan jiwa-ruhaninya kepada gundah-gulana hingga sampai titik hampa dan nestapa

Ini adalah petaka yang dahsyat terhadap setiap pribadi yang merindukan kedekatan dengan Penciptanya

-Ustadz Dr, Erwandi Tarmizi Hafidzhahullah di buku Harat Haram Muamalah Kontemporer-

Senin, 30 Desember 2013

Hukum Zodiak Dalam Islam

Rasulullah Shallahu alaihi wa sallam bersabda:

“Siapa yang mempelajari ilmu nujum berarti iatelah mempelajari cabang dari ilmu sihir, apabila bertambah ilmunujumnya maka bertambah pulalah ilmu sihirnya.” (HR Ahmad dengan sanad hasan).

Hadits ini dengan jelas dan tegas menyatakan bahwa ilmu nujum (yang termasuk dalam hal ini adalah ramalan bintang) merupakan bagian dari sihir. Bahkan Rasulullah Shallahu alaihi wa sallam menyatakan bahwa apabila ilmu nujum-nya itu bertambah, maka hal ini berarti bertambah pula ilmu sihir yang dipelajari orang tersebut. Sedangkan hukum sihir itu sendiriadalah haram dan termasuk kekafiran, sebagaimana Allah berfirman yang artinya:

“Dan mereka mengikuti apa yang dibaca oleh syaitan- syaitan pada masa kerajaan Sulaiman (dan mereka mengatakan bahwa Sulaiman itu mengerjakan sihir), padahal Sulaiman tidak kafir (tidak mengerjakan sihir), hanya syaitan-syaitan-lah yang kafir (mengerjakan sihir).” (Qs. Al Baqarah: 102)

Seseorang yang mempercayai ramalan bintang, secara langsungmaupun tidak langsung menyatakan bahwa ada zat selainAllah ta’ala yang mengetahuiperkara gaib. Padahal Allah ta’ala telah menegaskan dalam Al-Qur’an bahwa tidak ada yang mengetahui perkara yang gaib kecuali Dia. Allah ta’ala berfirman yang artinya:

“Katakanlah: Tidak ada seorangpun di langit dan di bumi yang mengetahui perkara yang ghaib, kecuali Allah.” (Qs. An Naml:65).

Dalam ayat lain, Allah menegaskanbahwatidak ada seorangpun yang dapat mengetahui apa yang akan terjadibesok, sebagaimana firmanNya yang artinya,

“Sesungguhnya Allah, hanya pada sisi-Nya sajalah pengetahuan tentang hari Kiamat; dan Dia-lah yang menurunkan hujan, dan mengetahui apa yang ada dalam rahim. dan tiada seorangpun yang dapat mengetahui (dengan pasti) apa yang akan diusahakannya besok. dan tiada seorangpun yang dapat mengetahui di bumi mana Dia akan mati. Sesungguhnya Allah Maha mengetahui lagi Maha Mengenal.” (Qs. Luqman: 34).

Astagfirullah....

Itulah sejumlah fenomena kemusyrikan yang cukup merebak di masyarakat. Semoga kita dilindungi dari perbuatan-perbuatan syirik, baik yang dilakukan dengan sengaja ataupun karena ketidaktahuan. Rasulullah Saw mengajarkan do’a agar terhindar dari berbagai bentuk kemusyrikan.

Allahumma inna na’uudzubika min annusyrika bika syaian na’lamuhu wa nastaghfiruka limaa laa na’lamuhu. “Ya Allah, aku berlindung kepada–Mu dari dosa syirik yang aku sadari, dan aku memohon ampunan kepada-Mu dari perbuatan syirik yang tidak aku sadari.” (HR. Ahmad dan Thabrani). Aamiin.

Amalam-amalan yang membawa kebaikan

Berikut ini disajikan beberapa amalan yang insya Allah ringan diamalkan namun bisa membawa pelakunya ke surga.

1. Berdzikir Kepada Allah

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
كَلِمَتَانِ خَفِيفَتَانِ عَلَى اللِّسَانِ ، ثَقِيلَتَانِ فِى الْمِيزَانِ ، حَبِيبَتَانِ إِلَى الرَّحْمَنِ سُبْحَانَ اللَّهِ وَبِحَمْدِهِ ، سُبْحَانَ اللَّهِ الْعَظِيمِ
“Ada dua kalimat yang ringan bagi lisan, berat dalam mizan (timbangan amal) dan dicintai ar-Rahmaan: ‘Subhanallahu wa bihamdih’ (Maha Suci Allah dan dengan pujian-Nya kami memuji) ‘Subhanallah al-Azhiim’ (Maha Suci Allah Dzat Yang Maha Agung).” (HR Bukhari dan Muslim)

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa salam bersabda,
لَأَنْ أَقُوْلَ: (سبحان الله والحمد لله ولا إله إلا الله والله أكبر) أَحَبُّ إِلَيَّ مِمّا طَلَعَتْ عَلَيْهِ الشَّمْسُ
“Saya membaca: ‘Subhanallah wal hamdulillah wa laa ilaaha illallah wallahu akbar’, sungguh aku lebih cintai daripada dunia dan seisinya.” (HR Muslim no 2695 dan at-Tirmidzi)

Dalam hadits lain Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa salam bersabda,
مَا عَمِلَ آدَمِيٌّ عَمَلًا أَنْجَى لَهُ مِنْ عَذَابِ اللَّهِ مِنْ ذِكْرِ اللَّهِ
“Tidaklah seorang manusia mengamalkan satu amalan yang dapat menyelamatkannya dari adzab Allah melainkan dzikir kepada Allah.” (HR ath-Thabrani dengan sanad yang hasan dan al-Allamah Ibnu Baz menjadikannya hujjah dalam kitab Tuhfah al-Akhyaar)

2. Meridhai Allah, Islam dan Rasulullah

مَا مِنْ عَبْدٍ مُسْلِمٍ يَقُولُ حِينَ يُصْبِحُ وَحِينَ يُمْسِي ثَلَاثَ مَرَّاتٍ رَضِيتُ بِاللَّهِ رَبًّا وَبِالْإِسْلَامِ دِينًا وَبِمُحَمَّدٍ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ نَبِيًّا إِلَّا كَانَ حَقًّا عَلَى اللَّهِ أَنْ يُرْضِيَهُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ
“Tidaklah seorang hamba muslim mengucapkan pada saat dia memasuki waktu pagi dan memasuki waktu petang: ‘radhiitu billahi rabba, wa bil islaami diina wa bi muhammad shallallahu ‘alaihi wa salam nabiya (aku ridha Allah sebagai Rabb-ku, Islam sebagai agamaku, dan Muhammad sebagai Nabi-ku)’ sebanyak tiga kali, melainkan merupakan hak bagi Allah untuk meridhainya pada hari kiamat kelak.” (HR Ahmad dan dihasankan oleh al-Allamah Ibnu Baz dalam kitab Tuhfah al-Akhyaar)

3. Menuntut Ilmu Syar’i

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa salam bersabda,
مَنْ سَلَكَ طَرِيْقًا يَلْتَمِسُ فِيْهِ عِلْمًا سَهَّلَ اللهُ لَهُ طَرِيْقًا إِلَى الْجَنَّةِ
“Barangsiapa menempuh suatu jalan untuk mencari ilmu, maka Allah akan mudahkan baginya jalan menuju surga.” (HR Muslim no 2699)

4. Menahan Marah

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa salam bersabda,
مَنْ كَظَمَ غَيْظًا وَهُوَ يَسْتَطِيعُ عَلَى أَنْ يُنَفِّذَهُ دَعَاهُ اللَّهُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ عَلَى رُءُوسِ الْخَلاَئِقِ حَتَّى يُخَيِّرَهُ فِي اَيِّ الْحُورِ شَاءَ
“Barangsiapa yang menahan amarahnya padahal dia mampu untuk melampiaskannya, niscaya Allah akan memanggilnya pada hari kiamat di hadapan para makhluk sampai Allah memilihkan untuknya bidadari-bidadari yang dia suka.” (Dihasankan oleh Imam at-Tirmidzi dan disepakati oleh Syaikh al-Albani)

5. Membaca Ayat Kursi

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa salam bersabda,
مَنْ قَرَأَ آيَةَ الْكُرْسِي دُبُرَ كُلِّ صَلاَةٍ لَمْ يَمْنَعُهُ مِنْ دُخُوْلِ الْجَنَّةَ إِلاَّ أَنْ يَمُوْتَ
“Barangsiapa yang membaca Ayat Kursi setiap selesai shalat, maka tidak ada yang dapat menghalanginya untuk masuk surga kecuali jika dia mati.”(HR an-Nasaa’i dan dishahihkan oleh Syaikh al-Albani)
Maksudnya adalah jika dia mati, dia akan masuk surga dengan rahmat dan karunia Allah ‘Azza wa Jalla.

6. Menyingkirkan Gangguan di Jalan

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa salam bersabda,
لَقَدْ رَأَيْتُ رَجُلاً يَتَقَلَّبُ فِي الجَنَّةِ فِي شَجَرَةٍ قَطَعَهاَ مِنْ ظَهْرِ الطَّرِيقِ كَانَتْ تُؤْذِي النَّاسَ
“Sungguh aku telah melihat seorang lelaki mondar-mandir di dalam surga dikarenakan sebuah pohon yang dia tebang dari tengah jalan yang selalu mengganggu manusia” (HR. Muslim)
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa salam bersabda,
مَرَّ رَجُلٌ بِغُصْنِ شَجَرَةٍ عَلَي ظَهْرِ طَرِيقٍ فَقَالَ وَاللهِ لأُنَحِّيَنَّ هَذَا عَنْ المُسْلِمِينَ لَا يُؤذِيهِمْ فَأُدْخِلَ الجَنَّةَ
“Ada seorang lelaki berjalan melewati ranting pohon yang ada di tengah jalan, lalu dia berkata, ‘Demi Allah, sungguh aku akan singkirkan ranting ini dari kaum muslimin agar tidak menganggu mereka.’ Maka dia pun dimasukkan ke dalam surga.” (HR Muslim)

7. Membela Kehormatan Saudaranya di Saat Ketidakhadirannya

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa salam bersabda,
مَنْ رَدَّ عَن عِرْضِ أَخِيهِ رَدَّ اللهُ عَن وَجْهِهِ النَّارَ يَوْمَ القِيَامَةِ
“Barangsiapa membela harga diri saudaranya, niscaya pada hari kiamat Allah akan memalingkan wajahnya dari api neraka.” (Dihasankan oleh Imam at-Tirmidzi dan dishahihkan oleh Syaikh al-Albani)
Dalam hadits lain Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa salam bersabda,
مَنْ وَقَاهُ اللهُ شَرَّ مَا بَيْنَ لَحيَيْهِ وَ شَرَّ مَا بَيْنَ رِجْلَيْنِ دَخَلَ الجَنَّةَ
“Barangsiapa yang Allah lindungi dari keburukan apa yang ada di antara kedua rahangnya (yaitu mulut) dan keburukan yang ada di antara dua pahanya (yaitu kemaluannya), niscaya dia akan masuk surga.”(Dihasankan oleh Imam at-Tirmidzi dan disepakati oleh Syaikh al-Albani)

8. Menjauhi Debat Kusir Walaupun Benar

Sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa salam,
أَنَا زَعِيمٌ بِبَيْتٍ فِي رَبَضِ الْجَنَّةِ لِمَنْ تَرَكَ الْمِرَاءَ وَإِنْ كَانَ مُحِقًّا وَبِبَيْتٍ فِي وَسَطِ الْجَنَّةِ لِمَنْ تَرَكَ الْكَذِبَ وَإِنْ كَانَ مَازِحًا وَبِبَيْتٍ فِي أَعْلَى الْجَنَّةِ لِمَنْ حَسَّنَ خُلُقَهُ
“Aku akan menjamin sebuah rumah di dasar surga bagi orang yang meninggalkan debat meskipun dia berada dalam pihak yang benar. Dan aku menjamin sebuah rumah di tengah surga bagi orang yang meninggalkan dusta meskipun dalam keadaan bercanda. Dan aku akan menjamin sebuah rumah di bagian teratas surga bagi orang yang membaguskan akhlaknya.” (HR Abu Dawud dan dihasankan oleh Syaikh al-Albani)

9. Berwudhu’ Lalu Shalat Dua Raka’at

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa salam bersabda,”Tidaklah seorang muslim berwudhu’ lalu dia baguskan wudhu’nya, kemudian dia berdiri shalat dua raka’at dengan menghadapkan hatinya dan wajahnya pada kedua raka’at itu, melainkan surga wajib baginya.” (HR Muslim)

10. Pergi Shalat ke Masjid

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa salam bersabda, “Berikanlah kabar gembira bagi orang-orang yang berjalan di dalam kegelapan untuk menuju masjid, mereka akan mendapatkan cahaya yang sempurna pada hari kiamat.” (HR Abu Dawud dan dishahihkan oleh Syaikh al-Albani)
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa salam juga bersabda, “Barangsiapa yang pergi ke masjid atau pulang dari masjid, niscaya Allah akan persiapkan baginya nuzul di dalam surga setiap kali dia pergi dan pulang.”(HR Bukhari dan Muslim)
Imam an-Nawawi berkata, “Nuzul adalah makanan pokok, rizki dan makanan yang dipersiapkan untuk tamu.”

Semoga bermanfaat ....

Senin, 02 Januari 2012

Penyempurna Suami adalah Istri

Dalam kehidupan berkeluarga, interaksi antara suami dan istri sangat menentukan suasana rumah tangga. kasih sayang (mawaddah dan rahmah) adalah suasana yang di impikan oleh setiap keluarga. akan tetapi masalah yang muncul dalam keluarga antara suami dan istri sering mengancam hubungan tersebut dan dapat merubah suasana rumah tangga.

Selain setiap suami dan istri harus mengetahui posisi dan tugasnya masing-masing, suami sebagai kepala rumah tangga harus bertanggung jawab atas semua yang terjadi dalam keluarga. jika masalah yang di sebabkan oleh suami maka dia lah yang salah, dan jika masalah itu di sebabkan oleh istri, maka suami juga yang salah.

Karena suami adalah pemimpin keluarga, penanggung jawab keluarga, bertanggung jawab atas semua kebutuhan keluarga termasuk kebutuhan istri dan anak-anaknya. menafkahi baik lahir maupun batin, juga bertanggung jawab atas pendidikan istri. dan istri juga tidak boleh merasa sudah cukup tahu akan tugasnya dan tidak ingin di atur.

Rosulullah -sholallahu 'alaihi wasallam- mewasiatkan kepada para suami dalam mendidik istri harus selalu di hadapi dengan kesabaran, dan mendidik mereka dengan cara yang baik. karena wanita di ciptakan dari tulang rusuk, dan bagian yang bengkok dari tulang rusuk tersebut adalah pada ujungnya. Rosulullah -sholallahu 'alaihi wasallam- bersabda :
وَاسْتَوْصُوا بِالنِّسَاءِ خَيْرًا فَإِنَّهُنَّ خُلِقْنَ مِنْ ضِلَعٍ، وَإِنَّ أَعْوَجَ شَيْءٍ فِي الضِّلَعِ أَعْلاَهُ، فَإِنْ ذَهَبْتَ تُقِيمُهُ كَسَرْتَهُ، وَإِنْ تَرَكْتَهُ لَمْ يَزَلْ أَعْوَجَ، فَاسْتَوْصُوا بِالنِّسَاءِ خَيْرًا

Artinya : "Dan berwasiatlah kepada para wanita dengan baik, karena sesungguhnya mereka di ciptakan dari tulang rusuk, dan bagian yang bengkok dari tulang rusuk adalah atasnya, jika engkau memaksa meluruskannya maka dia akan patah, dan jika engkau biarkan maka dia akan tetap bengkok. maka berwasiatlah kepada para wanita dengan baik." (HR Bukhori dan Muslim)

Dengan ini, maka istri adalah penyempurna bagi suami. istri bagaikan bagian tubuh yang dahulu hilang dan kini telah di temukan kembali. bagian hidup dan dahulu kurang dan kini telah lengkap kembali. menjaga istri dengan mendidiknya dengan cara yang baik, dengan begitu hidup kita akan terjaga.

Senin, 26 Desember 2011

Janji Untuk Menikah Dengan Seorang Perempuan

Apakah Janji Untuk Menikah di Kala Pacaran itu Mengikat ?  Mari kita cari jawabannya !

Fenomena yang seringkali terjadi di tengah masyarakat adalah adanya sepasang kekasih yang memadu janji untuk saling memiliki dan nantinya akan membangun mahligai rumah tangga.
Hampir di setiap wilayah kehidupan kita mendapati adanya dua sejoli memadu kasih dan saling mengikat diri dengan janji-janji. Bahkan terkadang hal yang sama meski tidak terlalu vulgar, terjadi juga pada para aktifis dakwah. Barangkali karena frekuensi bertemuan di antara mereka yang lumayan sering, sehingga menimbulkan jenis perasaan tertentu yang sulit digambarkan.

Barangkali kondiri ini agak dilematis. Sebab di satu sisi mereka paham bahwa hubungan antara pria dan wanita itu terbatas, namun di sisi lain di dalam jiwa mereka yang masih muda ada perasaan yang mendorong untuk tertarik dengan sesama rekan aktifisnya yang lain jenis. Interaksi yang intensif dan tuntutan dinamika pergerakan terkadang ikut menyuburkan perasaan-perasaan `aneh` itu.

Maka istilah CBSA terdengar dengan singkatan Cinta Bersemi Setelah Aksi. Hubungan yang awalnya agak kaku, tertutup, terhijab mulai mencair dan terasa lebih melegakan. Namun terkadang ada kasus dimana keterbukaan itu tidak hanya berhenti sampai disitu, lebih jauh sampai kepada hal-hal yang lebih pribadi dan ujung-ujungnya adalah sebuah janji untuk nantinya menikah.

Bagaimanakah syairat Islam memandang fenomena ini, khususnya janji antara dua sejoli untuk menikah ? Adakah landasan syar`inya ? Bisakah hal itu dibenarkan ?

I. Hukum Berjanji
Berjanji itu harus ditepati dan melanggar janji berarti berdosa. Bukan sekedar berdosa kepada orang yang kita janjikan tetapi juga kepada Allah. Dasar dari wajibnya kita menunaikan janji yang telah kita berikan antara lain adalah :

a. Perintah Allah SWT dalam Al-Qurân Al-Karîm.
Allah SWT telah memerintahkan kepada setiap muslim untuk melaksanakan janji-janji yang pernah diucapkan.

"Dan tepatilah perjanjian dengan Allah apabila kamu berjanji dan janganlah kamu membatalkan sumpah-sumpah itu, sesudah meneguhkannya, sedang kamu telah menjadikan Allah sebagai saksimu . Sesungguhnya Allah mengetahui apa yang kamu perbuat".(QS. An-Nahl : 91)

"Dan janganlah kamu jadikan sumpah-sumpahmu sebagai alat penipu di antaramu, yang menyebabkan tergelincir kaki sesudah kokoh tegaknya, dan kamu rasakan kemelaratan karena kamu menghalangi dari jalan Allah; dan bagimu azab yang besar".(An-Nal : 94)

b. Menunaikan Janji Adalah Ciri Orang Beriman.
Allah menyebutkan dalam surat Al-Mu`minun tentang ciri-ciri orang beriman. Salah satunya yang paling utama adalah mereka yang memelihara amanat dan janji yang pernah diucapkannya.

"Telah Beruntunglah orang-orang beriman, yaitu yang …. dan orang-orang yang memelihara amanat-amanat dan janjinya".(QS. Al-Mu`minun : 1-6)

c. Ingkar Janji Adalah Perbuatan Syetan.
Ingkar janji itu merupakan sifat dan perbuatan syetan. Dan mereka menggunakan janji itu dalam rangka mengelabuhi manusia dan menarik mereka ke dalam kesesatan. Dengan menjual janji itu, maka syetan telah berhasil menangguk keuntungan yang sangat besar. Karena alih-alih melaksanakan janjinya, syetan justru akan merasakan kenikmatan manakala manusia berhasil termakan janji-janji kosongnya itu.

"Syaitan itu memberikan janji-janji kepada mereka dan membangkitkan angan-angan kosong pada mereka, padahal syaitan itu tidak menjanjikan kepada mereka selain dari tipuan belaka".(QS. An-Nisa : 120)

d. Ingkar Janji Adalah Sifat Bani Israil
Ingkar janji juga perintah Allah kepada Bani Israil, namun sayangnya perintah itu dilanggarnya dan mereka dikenal sebagai umat yang terbiasa ingkar janji. Hal itu diabadikan di dalam Al-Quran Al-Karim.

"Hai Bani Israil , ingatlah akan ni`mat-Ku yang telah Aku anugerahkan kepadamu, dan penuhilah janjimu kepada-Ku , niscaya Aku penuhi janji-Ku kepadamu; dan hanya kepada-Ku-lah kamu harus takut" .(QS. Al-Baqarah : 40)

2. Janji Yang Mungkar

Namun janji itu hanya wajib ditunaikan manakala berbentuk sesuatu yang halal dan makruf. Sebaliknya bila janji itu adalah sesuatu yang mungkar, haram, maksiat atau hal-hal yang bertentangan dengan ketentuan syariat Islam, maka janji itu adalah janji yang batil. Hukumnya menjadi haram untuk dilaksanakan.

Misalnya seseorang berjanji untuk berzina, minum khamar, mencuri, membunuh atau melakukan kemaksiatan lainnya, maka janji itu adalah janji yang mungkar. Haram hukumnya bagi seorang muslim untuk melaksanakan janjinya itu. Meski pun ketika berjanji, dia mengucapkan nama Allah SWT atau sampai bersumpah. Sebab janji untuk melakukan kemungkaran itu hukumnya batal dengan sendirinya.

Dalam kasus tertentu, bila seseorang dipaksa untuk berjanji melakukan sesuatu yang bertentangan dengan syariat Islam, tidak ada kewajiban sama sekali baginya untuk menunaikannya. Misalnya, seorang prajurit muslim dan disiksa oleh lawan. Lalu sebagai syarat pembebasan hukumannya, dia dipaksa berjanji untuk tidak shalat atau mengerjakan perintah agama. Maka bila siksaan itu terasa berat baginya, dia diberi keringanan untuk menyatakan janji itu, namun begitu lepas dari musuh, dia sama sekali tidak punya kewajiban untuk melaksanakan janjinya itu. Sebab janji itu dengan sendirinya sudah gugur.

Dalam kasus Amar bin Yasir, hal yang sama juga terjadi dan Allah SWT memberikan keringanan kepadanya untuk melakukannya.

"Barangsiapa yang kafir kepada Allah sesudah dia beriman , kecuali orang yang dipaksa kafir padahal hatinya tetap tenang dalam beriman , akan tetapi orang yang melapangkan dadanya untuk kekafiran, maka kemurkaan Allah menimpanya dan baginya azab yang besar".(QS. An-Nah; : 106)

II. Janjian Untuk Menikah

Janji yang diucapkan oleh laki-laki yang bukan mahram dan bukan dalam status mengkhitbah itu tidak mengikat buat seorang wanita untuk menikah dengan orang lain atau menerima khitbah dari orang lain. Karena itu baru sekedar janji dan bukan khitbah.

Jadi di tengah jalan, wanita itu sha-sah saja bila menikah dengan orang lain dengan atau tanpa alasan apapun. Kecuali bila anda telah mengkhitbahnya/melamarnya secara syar`i. Karena khitbah memiliki kekuatan hukum yang mengikat calon pengantin wanita.

Sebenarnya dalam Islam tidak dikenal janji seperti itu karena memang tidak memiliki kekuatan hukum. Jadi tidak ubahnya seperti pacaran dan janji-janji sepasang kekasih yang kedudukannya tidak jelas.Janji untuk menikahi yang dikenal dalam Islam adalah khitbah itu sendiri. Ini adalah sejenis ikatan meski belum sampai kepada pernikahan. Begitu menerima dan menyetujui suatu khitbah dari seorang laki-laki, maka wanita itu tidak boleh menerima lamaran orang lain. Meski belum halal, tetapi paling tidak sudah berbentuk semi ikatan. Orang lain tidak boleh mengajukan lamaran pada wanita yang sedang dalam lamaran.

Menurut hemat kami, bila memang masih jauh untuk siap menikah, sebaiknya anda tidak usah terlalu memberi perhatian dalam masalah hubungan dengan wanita terlebih dahulu. Apapaun bentuknya. Dan tidak perlu membentuk hubungan khusus dengan siapa pun. Nanti pada saatnya anda siap berumah-tangga, maka silahkan ajukan lamaran kepada wanita yang menurut anda paling anda sukai. Jadi lebih real dan lebih pasti.

Dan ketahuilah bahwa para wanita umumnya lebih suka pada sesuatu yang pasti ketimbang digantung-gantung tidak karuan. Atau diberi janji-janji yang tidak jelas apa memang mungkin terlaksana atau hanya gombalisme belaka.

Rabu, 21 Desember 2011

Manusia Hidup Merugi

         Hidup adalah masa antara kita dilahirkan dari perut ibu sampai kita mati dimasukkan ke dalam liang kubur (lahad). Lamanya masa hidup itu tidak sama, ada yang pendek dan ada yang panjang, tetapi rata-rata atau kebanyakan adalah antara 60 dan 70 tahun lamanya.
     Berbagai bagai keadaan manusia dalam masa hidupnya itu. Ada orang yang dilahirkan dari keluarga yang kaya, dari mulai lahir sampai matinya dalam keadaan senang, bahagia, tidak mengalami kesusahan dan kesulitan yang berarti begitu pula sebaliknya. Ada pula yang hidup memiliki ilmu pengetahuan yang tinggi, terpandang, ternama, dengan kukuasaan besar dan di hormati serta sebaliknya.
         Satu pekara besar yang harus kita ingat dan sadari dalam meninjau berbagai bagai keadaan hidup dan kehidupan manusia itu, satu pekara besar yang harus kita pikirkan dan pelajari sedalam-dalamnya, ialah bahwa semua manusia yang hidup itu, dianggap oleh ALLAH dalam keadaan merugi, baik ia dalam keadaan kaya raya dan sebaliknya, baik dalam keadaan pintar ataupun sebaliknya.

            Perhatikan Firman ALLAH, Surah Al-‘Asri 1 - 3 :
Yang Artinya :
“Demi masa. Sesungguhnya manusia ini dalam kerugian. Kecuali orang-orang yang beriman dan beramal salih dan orang-orang yang berwasiat-wasiat tetang yang hak, dan berwaisat-wasiat tentang sabar.”

 Semua manusia siapa saja, di anggap ALLAH hidupnya merugi kecuali 4 macam manusia yaitu :

1.   Manusia yang hidupnya memiliki kesadaran tertinggi yang dinamakan “IMAN”, yaitu orang yang yakin bahwa di balik alam angkasa raya yang besar dan luas ini, ada “ZAT” yang maha besar dan maha kuasa, yang menciptakan dan mengendalikan alam ini seluruhnya. Dan bahwa di sana dibalik alam kehidupan yang nyata sekarang ini, ada lagi alam kehidupan yang lebih besar dan indah, yaitu kehidupan akhirat yang kekal dan abadi bagi setiap manusia. Siapa saja manusia yang meninggalkan dunia ini tanpa keimanan terhadap ALLAH dan kehidupan akhiratnya itu, akan terlunta-lunta menemui suatu alam yang tak dikenalnya, akhiratnya ia akan terjerumus masuk jurang dalam yang amat panas, yaitu neraka.

2.  Manusia yang hidupnya di samping untuk mencari makan dan minum, pula mengerjakan kebaikan (amal salih). Orang yang meninggalkan dunia ini tanpa amat yang salih, tanpa kebaikan, adalah orang yang amat merugi, sebab kehidupan di alam akhirat itu tidak ditentukan oleh harta kekayaan atau pengetahuan dan pangkat, tetapi ditentukan oleh amal salihnya. Sebab itu dipergunaknlah kehidupan yang tidak lama di dunia ini untuk melakukan pekerjaan-pekerjaan yang baik sebanyak-banyaknya.

3.  Manusia yang hidupnya dipergunakan untuk menyampaikan dan menerangkan hak atau kebenaran untuk mempertahankan dan membela yang hak atau kebenaran. Kebenaran atau hak itu banyak sekali macam atau ragamnya. Semuanya harus kita bela, sekalipun dari mana saja asal dan datangnya. Tetapi ketahuilah, bahwa segala induk kebenaran yang berasal dari Sumber Kebenaran, yaitu ALLAH, yang diturunkan kepada Rasull-Nya Muhammad saw. Dengan perantaraan jibril. Yaitu Kitab Suci Al-Qur’an dan ajarannya yang bernama Agama Islam.

Mengajarkan dan menyampaikan kebenaran yang merupakan wahyu-wahyu ALLAH yang bernama Al-Qur’an kepada siapa saja, membela dan mempertahankannya dengan segala kemampuan yang ada adalah perbuatan terpenting dalam hidup. Tanpa ini di dunia ini hidupnya menjadi satu kehidupan yang merugi, penghidupan yang hampa belaka.

Firman ALLAH, Al-Qur’an surah Ad-Dukhan ayat 1 - 6 :
Yang Artinya :
“Haa Miim. Demi Kitab yang membawa penerangan (Al-Qur’an) ini, sesungguhnya Kami turunkan ia di malam yang pernuh berkah, sesungguhnya Kamitelah memberikan peringatan (ancaman). Dengannya telah dibedakan tiap-tiap perkara yang bijaksana Sebagai Rahmat dari Tuhanmu, karena hanya ialah yang Mendengar, yang Mengetahui”

Orang yang hidup di permukaan bumi ini, sekedar makan dan minum, dan bersenang-senang saja, tidak turut mendukung kebenaran ini, mengajarkan dan membelanya, adalah orang yang merugi, satu macam hidup yang kurang nilai dan artinya dalam pandangan ALLAH SWT.

4.  Manusia yang mempergunakan hidupnya untuk menyampaikan nasehat dan wasiat kepada orang lainj tentang kesabaran. Yang dimaksudkan dengan sabar atau kesabaran di sini, bukan hanya menghibur hati orang yang sedang susah atau sedih tetapi inilah ketetapan hati di dalam memegang ajaran ALLAh yang benar ini, jangan sampai dapat digoyangkan oleh apa dan siapa saja.

Tetapi di atas keyakinan Iman dan Islamnya. Sekalipun ketatapan di atas keyakinan ini akan menyebabkan penderitaan yang bagaimanapun hebatnya, sekalipun akan menyebabkan tewasnya.
Mempergunakan hidupnya yang tak lama di dunia ini untuk menyampaikan nasehat atau anjuran agar manusia tetap menjalankan segala perintah ALLAH yang berupakan ibadat-ibadat : Sholat, Zakat, Puasa, bertolong-tolongan dan lain-lain dan tetap di atas keimanan atas apa yang diajarkan ALLAH dengan perantaraan Kitab Suci-Nya Al-Qur’an, menjadikan hidup yang tak lama ini menjadi satu macam hidup yang berharga, menjadikan hidup ini tehindar dari kerugian.

Cobalah renungkan sedalam-dalamnya akan arti yang terkandung di dalam ayat-ayat ALLAh di atas. Renungkan dan fikirkan berulang-ulang, kenapa ALLAH mengatakan hidup manusia di dunia ini merugi, kecuali orang-orang yang beriman, beramal salih, berwasiat tentang kebenaran dan kesabaran.
Sungguh beruntung sekali orang-orang yang dapat yang menangkap pengertian yang terkandung di dalamnya, dan sungguh merugi sekali orang-orang yang tidak dapat menangkapnya.
Rugi orang yang tak punya keimanan dan keyakinan terhadap ALLAH, lebih rugi lagi bila di samping itu merasa beruntung, sehingga merasa bangga hidup tanpa keimanan dan kepercayaan.
Mudah-mudahan ALLAH SWT menjadikan hidup kita hidup yang beruntung, yang tak merugi yaitu satu macam hidup yang selalu kita isi dengan keimanan, amal yang salih, mengajarkan dan membela keteranan dan tetap di atas kebenaran ini. Amin.

Dikutip dari Buku
                Judul                     : Mengenal Tuhan
                Karangan             : H. Bey Arifin
                Penerbit              : Pt. Bina Ilmu Surabaya

Senin, 19 Desember 2011

Penyebab Seseorang Berbuat Dosa

                   Perbuatan dosa diminati oleh banyak orang karena mempunyai daya tarik tersendiri, terlebih bagi orang yang mempunyai pandangan sesaat, perbuatan dosa pada umumnya , sering kali hadir dalam wujud kenikmatan, keindahan, serta attribut-attribut kesenangan lainnya yang bersifat sesaat dan menipu. Banyak orang sadar dan mengetahui bahwa semua itu merupakan jebakan, tapi kadang sering kali mereka kalah oleh godaan setan. Sehingga suara hari nurani mereka terpengaruh dengan ajakan setan yang menipu.
                Jadi, seseorang berbuat dosa itu tidak serta merta karena mereka tidak mengetahui bahwa apa yang dilakukan tergolong dosa, tapi ada hal lain yang membuatnya terperosok. Paling tidak, ada beberapa faktor yang menyebabkan seseorang terperosok dan terpanggil untuk melakukan perbuatan dosa. Berikut beberapa faktor tersebut :
1.       Kemiskinan
Seiring kali anda menjumpai seseorang melakukan pencurian atau perbuatan dosa lainnya disebabkan oleh kondisi ekonomi yang mendesak. Terlebih, bagi orang yang tidak kondisi tersebut dengan rasa Iman kepada ALLAH SWT. Ini yang kerap kali terjadi di sekitar lingkungan kita.
2.       Kesempatan
Banyak orang yang saat menjadi rakyat biasa, mereka cukup jujur. Tapi, tak pelek, ketika mereka sudah menduduki posisi penting dalam struktur pemerintahan, ternyata mereka melakukan tindakan korupsi. Ini disebabkan oleh kesempatan yang mereka miliki.
3.       Ambisi Harta
Banyak orang melakukan perbuatan dosa karena di dorong oleh ambisi untuk kaya. Ambisi yang berlebihan tersebut kadang kala membuat banyak orang lupa jalan kebenaran.
4.       Keimanan
Ini adalah poin penting dari sekian banyak faktor. Kemiskinan, kesempatan, dan ambisi menjadi hartawan bisa saja menipu seseorang. Namun demikian, karena ia mempunyai keimanan yang kuat, maka tak mungkin ia akan melakukan perbuatan dosa. Jadi, ini adalah faktor yang cukup berperan di antara faktor lainnya.

                Itulah beberapa point yang kerap kali menjerumuskan manusia kedalam perbuatan dosa. Dengan perkara tersebut, banyak orang yang mudah untuk melakukan perbuatan dosa sesuai dengan kapasitasnya sebagai manusia.


Dikutip dari buku :
                Judul                   : Dosa-dosa Identik dengan Laki-Laki Paling Dibenci ALLAH
                Karangan            : Horriyah
                Penerbit              : Diva Press

Minggu, 18 Desember 2011

Islam Seperti Pokok Kayu

Agama Islam dapat di umpamakan seperti pokok kayu. Satu pokok kayu ada mempunyai bagian yang tidak dapat di lihat, yaitu bahagian yang terhujam masuk ke perut bumu (dibawah tanah), yaitu yang dinamakan akar, yang banyak sekali, ada yang besar dan panjang, dan ada pula yang halus seperti rambut dan pendek.
Pokok kayu itu pula mempunyai bahagian yang dapat dilihat, yaitu bahagian yang muncul menjulang di atas permukaan bumi, yaitu yang dinamakan batang beserta dahan-dahannya yang besar dan rantingnya yang kecil yang banyak sekali pula.
Agama Islam seperti sebatang pokok kayu karena mempunyai 2 ajaran. Ajaran pertama mengenai kepercayaan (IMAN) yang dinamakan Rukun Iman. Pekerjaan orak dan pikiran semata. Banyak yang harus dipercaya oleh orang  Islam, tetapi yang pokok hanya 6 perkara.
Setiap orang islam, otak dan pikirannya harus yakin dan percaya sepenuh-penuhnya 6 pekara yang tersebut di bawah ini :
  1. Percaya tentang adanya ALLAH yang menciptakan seluruh alam.
  2. Percaya tentang adanya Malaikat, makhluk gaib yang selalu menjaga alam ini.
  3. Mempercayai semua Rasul yang diutus ALLAH kepada manusia untuk mengajarkan agama yang benar
  4. Mempercayai semua Kitab Suci ALLAH yang diturunkan kepada Rasul-Rasul itu.
  5. Percaya bahawa semua manusia yang hidup di dunia ini diperhitungkan dan dibalas dengan balasan yang setimpal
  6. Percaya terhadap Qadha, yaitu bahwa semua apa yang terjadi itu adalah dengan kekuasaan ALLAH semata.
Di samping Rukun Iman yang 6 pekara tersebut di atas ini, setiap orang islam di dalam hidupnya harus menjalankan ataupun melakukan 3 pekara yang tersebut di bawah ini, yang dinamakan Rukun Islam, yaitu :
1.       Mengucapkan dua kalimat syhadat, yaitu :
“Asyhadu-an-la-ilaha-illallaah wa-asy hadu anna Muhammadan Rasulullah”
Artinya :
“Aku mengakui tidak ada tuhan selain ALLAH, dan aku mengakui bahwa Muhammad adalah rasul (pesuruh) ALLAH”
2.       Mengerjakan Sholat 5 waktu sehari-semalam
3.       Mengerjakan Puasa di bulan Ramadhan
4.       Mengeluarkan zakat harta setelah sampai senisab (hinggaanya) sekali setahun
5.       Mengerjakan ibadat haji ke Mekkah sekali seumur hidup bagi mereka yang mampu

Islam seperti pokok kayu. Rukun Iman sebagai urat atau akar, sedangkan Rukun Islam sebagai batang, dahan , dan ranting. Dengan gampang dapatlah kita mengerti bahwa Rukun Iman mempunyai kedudukan yang jauh lebih penting dari Rukun Islam.
Bila urat atau akar kayu tidak hidup, tidak kuat, tidak terhujam jauh ke perut bumi, atau akar itu tidak mendapatkan tanah subur atau kurang pupuk, maka akibatnya pokok kayu itu akan hidup merana atau mati sama sekali. Atau kalaupun terus hidup akan kelihatan batang, dahan, dan rantingnya tidak hidup subur. Bila ia berdaun atau berkembang, daun dan kembangnya gampang berguguran bila di tiup angin sedikit saja. Dan tak ada kembangnya yang menjadi buah. Jadi akar kayu yang tidak kuat atau tidak mendapat pupuk, menyebabkan batang kayu tidak berbuah dan tak berguna.
Begitu pulalah keadaan seseorang Islam yang tak beriman, atau lemah imannya karena tidak di pupuk atau di pelihara, agamanya akan merana, tidak ada perhatian dan kegiatan padanya untuk melakukan Ibadat yang dinamakan Rukun Islam yang lima. Orang yang beragama Islam dan tidak melakukan Ibadat, adalah agamanya itu ibarat pokok kayu yang tak berbuah.
Jadi bila kita dapati sekarang banyak orang islam di dalam dan di luar negeri yang meninggalkan Sholat lima waktu, tidak mengerjakan puasa di bulan Ramadhan, tidak mengeluarkan Zakat harta sekali setahun meskipun dia orang kaya atau milioner, tidak mengerjakan Ibadat Haji sekalipun sanggup dan kuasa, apalagi kalau ada orang islam yang rusak Akhlak dan Budi Pekertinya, itu semua adalah karena lenyap atau lemahnya keimanan di dada mereka, selain usaha-usaha yang memperkokoh keimanan itu, yaitu usaha memupuk dan menyuburkan keimanan itu.

Dikutip dari Buku
                Judul                   : Mengenal Tuhan
                Karangan            : H. Bey Arifin
                Penerbit              : Pt. Bina Ilmu Surabaya